Zakat Sedekah Wakaf

×
Masuk
Daftar
×

Menu

Home Tentang Kami Program Laporan Mitra Kami Kabar Daqu Sedekah Barang

Mulai #CeritaBaik Kamu Sekarang

Rekening Zakat Rekening Sedekah Rekening Wakaf

Alamat

Graha Daarul Qur'an
Kawasan Bisnis CBD Ciledug Blok A3 No.21
Jl. Hos Cokroaminoto
Karang Tengah - Tangerang 15157 List kantor cabang

Bantuan

Call Center : 021 7345 3000
SMS/WA Center : 0817 019 8828
Email Center : [email protected]

Rumah Tangga ala Rasulullah (Bagian 1)

01 May 2020
Image

Saya mengupas sedikit tentang sosok perempuan mulia di antara ummahatul mukminin, ibu para mukmin. Dalam Al-Qur'an, disebutkan bahwa ummahatul mukminin ini tidak menikah lagi setelah Rasulullah Saw wafat, karena memang beliau-beliau ini ibunya orang-orang beriman. Beliau-beliau ini ibu kita, tempat kita belajar.

Pada kesempatan kali ini saya mengkaji sedikit tentang ibunda kita Sayyidatuna Aisyah, beliau adalah putra dari pada Abu Bakar Ash-Shiddiq ra dari istri beliau yang bernama Ummu Rumman. Jadi, Abu Bakar Ash-Shidiq sebelum Islam, beliau mempunyai dua istri. Yang pertama namanya Qhotillah atau Qutailah, dari Qutailah ini beliau memiliki satu orang putra yang bernama Abdullah dan satu lagi bernama Sayyidatuna Asma'. Kemudian beliau menikah dengan Ummu Rumman, wanita yang mulia yang luar biasa. Dari Ummu Rumman lahirlah seorang putra yang bernama Abdurrahman bin Abi Bakar, dan seorang perempuan yang kelak menjadi istri Nabi Saw, beliau adalah Sayyidatuna Aisyah, yaitu ibunda kita Aisyah ra.

Kalau kita berbicara bagaimana Nabi Saw meminang ibunda kita Aisyah, jadi beliau sempat didatangi mimpi tiga kali, ada yang mengatakan dua kali ada yang mengatakan tiga kali. Jibril turun dalam mimpinya seakan-akan menampakan kepada Rasulullah Saw. Dalam mimpi, Nabi ditampakan pada khirqah berupa selembar dari kain sutrah hijau, di situ ada gambar Sayyidah Aisyah. Jibril mengatakan kepada Nabi Saw, ini adalah istrimu di dunia dan akhirat, istrimu fiddunya wal akhirah.

Ketika Sayyidah  Khadijah wafat, Sayyidah Khaulah berkata kepada baginda Nabi Saw, “Ya Rasulullah, apakah Engkau tidak ingin menikah lagi? Ya Rasulullah, Engkau bisa menikah dengan gadis dan Engkau bisa menikah dengn janda.” Rasulullah bertanya, "Siapa yang gadis?” Sayyidah Khaulah menjawab, “Yang gadis adalah putri yang paling mulia di atas muka bumi, yang Engkau nyatakan bahwa yang paling mulia di atas muka bumi setelah rasul dan nabiNya adalah Abu Bakar Ash-shiddiq. Putri Abu Bakar, yaitu Sayyidah Aisyah." Rasulullah kembali bertanya, ” Lalu yang janda siapa?" Sayyidah Khaulah menjawab, "Yang janda adalah Sayyidah Sauda binti Khuzaimah, dan beliau juga sudah masuk Islam, dan mengikuti apa yang telah Engkau ucapkan ya Rasulullah.” Nabi Saw pun menyampaikan kepada Sayyidah Khaulah, “Silahkan sampaikan salamku kepada mereka dan sebut namaku kepada mereka.”

Nah, ketika Sayyidah Khaulah datang ke rumah Abu Bakar Ash-Shiddiq, ia masuk ke dalam rumahnya. Di situ hanya ada istri beliau yang bernama Ummu Ruman. “Berbahagialah wahai engkau Ummu Rumman, Nabi ingin meminang putrimu, Nabi ingin meminang putrimu,” kata Khaulah. Apa kata Ummu Ruman? Ia tidak langsung memberikan keputusan. Karena saat itu Abu Bakar sedang berada di luar rumah, Ummu Rumman menjawab, “Tunggulah Abu Bakar, tunggulah ayahnya Sayyidah Aisyah.”

Ketika Abu Bakar masuk ke rumahnya, disampaikanlah oleh Khaulah bahwa Rasulullah ingin meminang putrinya. Tapi apa kata Abu Bakar? "Tunggu sebentar, saya belum bisa memberikan jawaban kepadamu wahai Khaulah, karena saya terikat ucapan kepada Mut'in bin Adi.”

Mut'in bin Adi adalah salah seorang kafir Quraisy yang kaya, dan dia masih belum masuk Islam serta ingin meminang Sayyidah Aisyah untuk putra beliau yang bernama Zubair bin Mut'in. Abu Bakar pun mendatangi rumah Mut'in bin Adi di kota Mekah. Abu Bakar As-Shiddiq berkata kepada Mut'in bin Adi, istrinya, dan kepada anak-anaknya.  “Apakah kalian menginginkan Aisyah untuk menjadi menantu kalian, untuk dilamar oleh putra kalian yang bernama Zubair bin Mut'in?” Istri Mut'in bin Adi pun menjawab, “Wah, saya tidak ingin menikahkan putra saya dengan putrimu, karena kalau putra saya menikahi putrimu, nanti engkau ajak masuk Islam sehingga dia tidak mengikuti agama nenek moyangya, saya tidak setuju.” Abu Bakar menjawab, “Inikan pendapatmu wahai Ummu Zubair, saya ingin bertanya kepadamu wahai Mut'in bin Adi.” Mut'in bin Adi mengatakan, "Apa yang dikatakan istri saya ya sama saja, saya tidak jadi.”

Alhamdulillah, Abu Bakar masuk ke rumahnya bertemu dengan Sayyidah Khaulah dan mengatakan, “Sampaikan kepada Nabi, silahkan kalau ingin meminang Aisyah.” Subhanallah, dipinanglah oleh Rasulullah Saw. Dinikahilah Sayyidah Aisyah di usia tujuh tahun, berkumpul bersama Nabi diusia sembilan tahun. Mahar yang diberikan kepada Sayyidah Aisyah sama dengan istrinya yang lain, yaitu kurang lebih 500 dirham. (Bersambung ke bagian 2)

Belum zakat fitrah? Tunaikan di sini.



Nikmati kemudahan informasi terkait program-program Daarul Qur'an melalui email anda